Rama, Tunanetra Multitalenta

Sungguh luar biasa, seorang penyandang tunanetra bernama Eko Ramaditya Adikara ini. Kenapa tidak? Dengan kondisinya yang terbatas, ia memiliki kemampuan lebih, baik di bidang game, music composer, blogger, motivator, jurnalis (wartawan, red), dan terakhir editor. Tak hanya itu, ia juga telah menerbitkan sebuah buku otobiografi dengan judul Blind Power (Kekuatan dalam Kegelapan).

Dalam acara road show seminar motivasi dan spiritual yang bertajuk The Limits-Break Your Border, Reach Your Dream di Aula PT Telkom Sumbangsel, Jl Jenderal Sudirman, kemarin (2/5), Rama–sapaan akrab Eko Ramaditya Adikara–hadir memberikan berbagai motivasi. Tak hanya itu, ia juga menunjukkan kemahirannya memainkan komputer dan juga mengoperasikan handphone, tepatnya membaca short message service (SMS).
Pria yang sering mengenakan kostum unik serba putih ini, mirip tokoh Star Wars dengan pedang light saber itu. Ini memang menjadi ciri khasnya dalam setiap road show mengenai buku otobiografinya, Blind Power.
Rama meninggalkan huruf braille sejak sepuluh tahun lalu, saat teknologi pembaca layar (screen reader) hadir. “Bagi saya, itu sebuah momen revolusi yang membuatku praktis tidak menggunakan braille lagi. Dan saya bisa membaca buku atau menulis di komputer seperti mereka yang berpenglihatan normal,” beber pria kelahiran Semarang, 3 Februari 1981 ini.
Kisah hidup Rama kian menarik ketika kesukaannya pada games, membawanya terlibat pada penataan musik Nintendo untuk video games Super Smash Brother Brawl yang dirilis 10 Februari 2008. Sejak itu, dia rajin menggubah musik, karya komposisi, dengan menghasilkan musik hingga lebih dari seratus buah. Tiga di antaranya dipakai untuk tema lagu permainan Final Fantasy VII, sebuah permainan buatan Jepang yang sangat terkenal di kalangan pencinta games komputer, termasuk di Indonesia.
Menurut Rama, ada tiga hal dalam hidup yang bisa menjadi motivasi diri untuk perubahan hidup yang lebih besar. Pertama, selalu bersyukur. Kedua, ada niat. Dan ketiga, harus berusaha. Dan satu hal lagi yang paling penting, berkonsentrasi atau fokus pada permasalahan (khusyuk).
“Jadi, kata siapa seorang tuna netra tidak dapat berbuat apa-apa? Apabila seseorang mau berusaha dengan terus belajar, maka dengan kondisi yang terbatas yang dimilikinya tidak menjadi penghalang dalam berkreativitas,” tegas Rama yang memang multilalenta atau memiliki banyak kemampuan ini.
Di lain pihak, General Manager PT Telkom Sumbangsel Muchlis menilai, sosok Rama patut dijadikan tauladan. ”Dimana kekurangan yang dimilikinya bisa dijadikan kelebihan bagi dirinya. Motivasi yang sangat besar membuat dirinya menjadi besar seperti sekarang. Sama halnya dengan produk Flexi yang semakin flexibel,” cetus Muchlis.(mg 26/edy)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: