Yang Gosong Adalah Kentang, Bukan Diri Kita

Suatu siang di sebuah perusahaan pengembang, terlihat seorang pemuda dengan wajah kusut dan tidak bersemangat, sebuah beban berat seakan menghimpit pundaknya. Bagaimana tidak, proyek yang telah memakan banyak biaya, waktu, tenaga, dan pikirannya, tidak sesukses yang ia harapkan.

Oleh Dr H.K Suheimi(Diambil dari cimbuak.com

Tanpa disadari si pemuda, ternyata dari sebuah ruangan sepasang mata dari tadi mengamatinya, dia tak lain adalah atasan si pemuda. Dari usia dan kedudukannya , atasannya itu tentu memiliki pengalaman lebih banyak, dan hal itulah yang membuatnya tergerak untuk memanggil anak muda itu.”Aku tahu, kau tentu sangat terpukul dengan kegagalan yang baru saja kau alami”, kata si atasan sambil menepuk punggung si pemuda. ”Eh… iya pak… , saya minta maaf, saya tidak berguna, dan hanya bisa merugikan perusahaan. Saya tentu tidak akan mendapatkan kepercayaan lagi di perusahaan ini, atau bisa saja ini adalah hari terakhir bagi saya bekerja disini”, jawab si pemuda dengan kesedihan yang mendalam.Mendengar jawaban itu , atasan yang terkenal dengan sifat bijaknya hanya tersenyum dan berkata.”Anak muda , jika seseorang menggoreng kentang, dan akibat kelalaiannya membuat kentang itu gosong, apakah si penggoreng kentang itu gagal dan tidak berguna ???”. ”Tentu saja pak ….”, jawab si pemuda singkat” ok… pertanyaan saya sekarang adalah, yang gosong itu si penggorengnya atau kentang yang digorengnya ??. Si atasan kembali bertanya dengan nada pelan tapi sarat dengan makna.”Ya… tentunya kentang yang digoreng dong pak yang hangus”.”Tepat sekali…, yang hangus adalah kentang yang digoreng, bukan si penggorengnya. Begitu juga dengan kegagalan mu hari ini, yang gagal adalah proyek yang kamu kerjakan, bukan dirimu. Karena itu , sangat tidak tepat rasanya, kalau kau merasa dirimu tidak berarti dan tidak berguna seperti halnya sepotong kentang yang gosong,,,”Cerita ini tentu sangat dalam, terutama bagi kita yang sering merasa gagal dalam melaksanakan sesuatu. Kadang kita sering menghukum atau menyalahkan diri sendiri secara berlebihan, padahal yang gagal bukan diri kita, tapi peristiwanya. Dan seorang pemenang tidak akan pernah menyerah, dan orang yang menyerah tidak akan menang, segera evaluasi, dan bangkit.Untuk itu ingin saya petikkan sebuah Firman suci Nya dalam Al Qur’an Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS. 3:146)P Baru 12 Febr 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: