13,8 Ton Trenggiling Dimusnahkan

Kerugian Negara Rp26,4 M/

Tenggiling yang dimusnahkan kemarin. Rencananya binatang langkaa ini akan diekspor oleh tersangka ke Singappura dan Malaysia. Satusisik tenggiling bisa berharga puluhan juta

PALEMBANG – Barang bukti berupa 13.800 kg atau 13,8 ton daging trenggiling (manis javanica) yang disita 30 Juli lalu dimusnahkan. Pemusnahan dilakukan di Mako Sproch, Hutan Wisata Punti Kayu, Palembang, kemarin (27/8). Pemusnahan dilakukan langsung oleh Kapolda Sumsel Irjen Pol Drs Ito Sumardi DS SH MBA MM MH, Direktur V/Tipiter Bareskrim Mabes Polri Brigjen Pol Sunarjono, dan Direktur Jenderal (Dirjen) Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Departemen Kehutanan RI, Ir Darori MM.

Hadir pada acara pemusnahan barang bukti 13,8 ton trenggiling itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kaban Kesbangpol Linmas) Drs H Rusli Nawi SDP MSi, Kanit I Direktorat V/Tipiter Bareskrim Mabes Polri Kombes Pol Drs Didid Widjanardi SH, AS Intel Kodam II/Swj Kolonel Thoni Damanik, Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Rusman Dany, Kasatreskrim Poltabes Palembang Kompol Kristovo Arianto SIk, dan berbagai pihak lainnya.
Sebelum dilakukan pemusnahan, dilakukan penandatanganan berita acara pemusnahan barang bukti. Setelah itu, Kanit I Direktorat V/Tipiter Bareskrim Mabes Polri Kombes Pol Drs Didid Widjanardi SH menyerahkan 10 ekor trenggiling tanpa kulit yang sudah mati kepada Kapolda, Dirjen PHKA, AS Intel Kodam II/Swj dan tamu undangan lainnya. Secara bersama-sama, 10 ekor trenggiling tersebut dilempar ke lubang besar berukuran 10 x 6 meter. Setelah itu, 10 trenggiling seberat 18,63 kg tersebut bersama barang bukti lainnya dibakar.
Kanit I Direktorat V/Tipiter Bareskrim Mabes Polri Kombes Pol Drs Didid Widjanardi SH selaku pemimpin penggerebekan mengatakan, pada 30 Juli 2008 lalu, tim dari unit I Dit V/Tipiter Bareskrim Polri bersama Polda Sumsel menggeledah gudang PT Ikan Mas Jaya yang berlokasi di Jl Irigasi No 84, RT 09/03, Kelurahan Karya Baru, Sukarami yang memiliki SITU Nomor 4716/KPTS/SITU/2007, tertanggal 22 Agustus 2007, dan berlaku hingga 22 Agustus 2009. “Pengungkapan kasus ini setelah kita melakukan penyidikan selama tiga bulan. Kita berhasil menyita 13,8 ton daging trenggiling beku dan 56 kg sisik trenggiling,” ujar Didid.
Menurut Didid, untuk pemusnahan barang bukti tersebut, telah ada izin dari Ketua Pengadilan Negeri (PN) Palembang Nomor 1242.Pen.Pid/2008 tertanggal 12 Agustus 2008. “Ke depan, kita harus sosialisasikan kalau trenggiling adalah hewan langka yang dilindungi. Dilarang untuk dilukai, dimusnahkan atau pun diperdagangkan,” cetusnya. Dirjen PHKA Dephut RI, Darori mengakui pihaknya kecolongan, tidak hanya di Sumsel namun terjadi di beberapa kota di Indonesia.
Soalnya, dari beberapa kasus pemerintah Indonesia, dalam hal ini Dephut baru mengetahui adanya ekspor ilegal trenggiling setelah dilakukan penangkapan di luar wilayah Indonesia. Fakta yang diungkapkan Darori menyebutkan, sebanyak 168 ekor disita saat akan dibawa ke Malaysia, 100 ekor ke Thailand, dan 710 ekor ke Vietnam. Percobaan penyelundupan dari Medan 252 ekor dan dari Kalimantan Selatan 209 ekor. “Kita berterima kasih karena di Sumsel berhasil diungkap dalam jumlah yang sangat besar yang mencapai 13,8 ton,” tuturnya.
Darori bahkan berani mengatakan kalau bisnis ilegal trenggiling ini ada dugaan melibatkan oknum baik dari Dephut sendiri maupun pihak-pihak lain yang terkait. Untuk itu, ia berharap para tersangka dalam kasus ini dapat dihukum seberat-beratnya sesuai dengan sanksi yang diatur dalam undang-undang (UU). Darori mengatakan, pihaknya bukan mau melakukan intervensi. Tapi contoh di Tarakan, seorang warga negara asing (WNA) asal Cina divonis bersalah 5 tahun karena menjadi pelaku penyelundungan 600 ekor penyu ke Cina. Penyelundungan ini dilatarbelakangi karena harga jual per ekonya di Cina mencapai Rp50 juta.
Untuk daging trenggiling ini, menurut Darori, harga per kilogramnya sekitar Rp800 ribu. Artinya, pada kasus 13,8 ton trenggiling ini negara telah dirugikan sekitar Rp26,4 miliar. Terkait adanya dugaan keterlibatan ‘orang dalam’ Dephut, Darori mengaku saat ini sedang melakukan pengusutan karena hal tersebut harus didasari bukti yang kuat. “Tidak hanya anggota kita, tapi pihak lain juga seperti aparat yang berkaitan dengan pelabuhan dan penerbangan,” cetusnya. Ia menduga, untuk pengiriman dalam jumlah sedikit dilakukan melalui pesawat terbang.
Sedangkan untuk jumlah besar seperti di Sumsel, pengiriman diduga melalui jalur laut. Untuk kasus di Sumsel, penyelundupan dilakukan dengan memalsukan isi dengan kargo bertuliskan ikan laut, ternyata bukan ikan. “Ya, namanya penyelundupan, mana mungkin tidak ada yang terlibat. Tapi, kita belum mendapatkan siapa dari kita yang terlibat,” bebernya. Sayang, Dirjen PHKA ini tidak ingat berapa jumlah kerugian negara akibat penyelundupan berbagai hewan langka Indonesia. Ia bahkan tidak menyangka kalau daging trenggiling di Sumsel dibeli dengan harga Rp800 ribu per kilogramnya.

Tersangka Belum Bertambah
Kapolda Sumsel, Irjen Pol Drs Ito Sumardi DS menegaskan akan melakukan penuntutan kepada para tersangka yang terlibat dalam kasus ini. Maksudnya, agar menjadi contoh bagi yang lainnya untuk tidak melakukan hal yang sama. Apalagi, trenggiling adalah hewan langka yang harus dilindungi. “Karena kasus ini kita mendapat sorotan dari negara luar. Ternyata yang mendanai penyelundupan ini orang luar juga,” cetus Ito. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan adanya keterlibatan dari oknum-oknum terkait.
Pasalnya, banyak proses yang harus dilalui agar penyelundupan berjalan lancar dan sukses mulai dari perizinannya, pengawasannya dan penindakannya. Secara intern, Kapolda mengatakan pihaknya telah melakukan pemeriksaan secara internal. Menurutnya, sudah ada beberapa orang personelnya yang dimintai keterangan terkait kasus ini. “Bisa saja mereka karena kenal dengan pengusaha tersebut tapi tidak tahu dengan usahanya pengusaha itu. Mestinya, sebagai anggota kita harus mengetahui hal tersebut. Apalagi perizinannya adalah izin pengolahan ikan. Kalau kita saja tidak tahu, berarti lemah dalam pengawasan,” beber Ito.
Namun, sejauh ini belum bisa dipastikan siapa saja yang terlibat selain ketiga tersangka yang sudah ditahan. Hanya saja, Ito telah mempertanyakan pengawasan dari kapolsek setempat dan dari Poltabes Palembang yang kecolongan dengan kejadian tersebut. Dikatakan Kapolda, ada dua kemungkinan, benar-benar tidak tahu atau tahu tapi pura-pura tidak tahu. “Sejauh ini mereka benar-benar tidak tahu. Tersangkanya tetap tiga orang. Tersangka utamanya melibatkan warga negara Malaysia (belum tertangkap). Kita sudah layangkan pemberitahuan minta bantuan melalui kedutaan kita di sana,” pungkas Ito.
Penggerebekan yang dilakukan Bareskrim Polri dan Polda Sumsel berdasarkan informasi masyarakat. Untuk itu, Kapolda mengimbau masyarakat yang melihat atau menemukan perusahaan yang tertutup dan mencurigakan untuk segera melapor kepada pihak berwenang. Diketahui, Rabu, 30 Juli lalu pabrik pengolahan satwa langka jenis trenggiling digerebek Unit I Dit V/Tipiter Bareskrim Mabes Polri pimpinan Kanit I Direktorat V/Tipiter Bareskrim Mabes Polri Kombes Pol Drs Didid Widjanardi SH bersama Polda Sumsel.
Dalam penggerebekan itu, ditemukan empat cold storage. Storage pertama berisi 195 packing (dus) yang berisi 2145 ekor trenggiling dengan berat 6,8 ton. Pada cold storage dua ditemukan 13 packing yang berisi 143 ekor trenggiling dengan berat 455 kg, 12 packing berisi 84 ekor labi-labi mati dengan berat 478 kg, 50 packing berisi ikan sarden dengan total berat 1,1 ton, dan 85 empedu trenggiling. Pada cold storage ketiga ditemukan 25 trenggiling mati dengan berat 125 kg dan. Pada cold storage keempat ditemukan 170 ekor trenggiling dalam enam karung dan satuan tidak terbungkus dengan total berat 850 Kg.
Ditemukan pula empat karung sisik trenggiling yang dijemur di halaman rumah dengan berat 50 kg. Ditemukan pula dokumen yang berkaitan dengan usaha perdagangan ikan, labi-labi dan ular. Ditemukan berbagai alat untuk packaging. Pada kasus ini, kepolisian telah menetapkan tiga orang tersangka yang telah ditahan yaitu EKS alias ASG alias E Koong Seng alias Aseng (29) warga Pasak 43950, Sungai Pelik, Malaysia. Kemudian, HSH alias Hing Sang Hasan (38), warga Jl MP Mangkunegara, Kompleks Kenten Permai, Palembang dan MRS alias Moris (56), warga Jl Yasin Salamah, RT 18/02, Kelurahan 2 Ilir Palembang.
Harga trenggiling lokal dari pengumpul (harga beli) per kilogramnya mencapai Rp250 ribu. Harga jual daging trenggiling di pasaran internasional (ekspor) yaitu US$112 atau Rp1.021.440 per kilogramnya. Harga jual daging trenggiling siap saji di rumah makan di Cina/Taiwan mencapai US$210 atau Rp1.915.200 per kilogramnya. Sementara itu, kulit/sisik trenggiling dihargai US$400 per kilogramnya. Saat ini harga satu sisik dihargai US$1. Satu kilogram diperkirakan 590 keping sisik.
Di tempat terpisah, jajaran Unit Pidum Poltabes Palembang dipimpin AKP Antoni Adhi SH, yang membantu pengembangan kasusnya, berhasil menyita setidaknya 216 kg kulit trenggiling dari tempat pengepul di kawasan Tanjung Api-Api. Terdiri atas 13 karung berbeda berat muatannya, dan 2 kantong plastik hitam yang dilakban. Berikut dua buah timbangan digital, maing-masing untuk beban maks 150 kg dan 10 kg. 2 unit mesin faksimile, 2 buah kalkulator. Kemudian mesin jahit untuk menjahit karung beras pembungkus kulit trenggiling, serta buku pembukuan transaksi.

Trenggiling Dicampur Ikan
Modus penyelundupan trenggiling ke luar negeri terbilang sederhana namun berhasil mengecoh semua pihak. Daging trenggiling yang telah dibersihkan sisik dan isi perutnya diekspor dalam keadaan beku menuju Cina, Taiwan atau Hong Kong. Sempat transit di Malaysia atau Vietnam. Dari Palembang, pengiriman dilakukan dengan memakai kontainer atau bus antar kota antar provinsi melalui Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Trenggiling yang hendak diselundupkan disamarkan dengan cara dicampur dengan paket ikan atau dengan menggunakan dokumen pengiriman ikan. Kontainer berisi trenggiling ini selanjutnya diangkut dengan kapal melalui Jakarta atau pelabuhan Bangka.
Penyelundupan trenggiling ini melanggar pasal 21 ayat (2) jo pasal 40 ayat (2) UU No 50/1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Bagaimana alur penyelundupan trenggiling ini? Para tersangka mencari trenggiling dari para pengumpul yang merupakan pelanggan dari luar Palembang via telepon. Setelah ada persediaan trenggiling, para pengumpul akan menghubungi para tersangka sebagai penampung. Tersangka kemudian mengambil trenggiling itu dengan kendaraan untuk kemudian dibawa ke gudang penampungan PT Ikan Mas Jaya di Jl Irigasi, Palembang.
Trenggiling yang mati sampai di gudang akan dibersihkan, ditimbang, di-packing dan disimpan dalam cold storage untuk siap dikirim. Sedang trenggiling yang masih hidup setibanya di gudang ditimbang terlebih dahulu. Kemudian dipotong dengan cara mengetok bagian kepalanya dengan kayu sampai mati. Setelah itu dipotong lehernya. Trenggiling kemudian direbus dengan air panas agar sisiknya terlepas dari badannya. Setelah itu, bagian dalam trenggiling dikeluarkan dan hanya ususnya saja yang dibuang. Daging dan hatinya untuk dikonsumsi. Empedunya untuk obat. Sisiknya untuk obat, bahan kosmetik, dompet, tas dan bahan kancing.(46)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: